Agar Wisata Bahari Menjaga Laut Lestari

27/Feb/20
Oleh : Luh Putu Sugiari & Wahyu Ardianta
Editor :

Pagi itu, Pantai Tanjung Benoa di kawasan selatan Bali terlihat tenang. Matahari pun hangat menyentuh tubuh. Mesin-mesin kapal mulai dihidupkan bersahut-sahutan. Sangat bising. Orang-orang ramai memenuhi setiap sisi pantai. Ruang terbuka itu pun terasa sesak.
 
Turis hilir mudik di pantai berpasir putih itu. Hampir semuanya wajah-wajah warga negara asing. Kulitnya putih, rambutnya agak merah. Tawa-tawa tak pernah lepas dari wajah mereka. Seperti umumnya turis, mereka juga saling berpose dan berekspresi penuh seceria lalu diabadikan dalam bidikan kamera.

Di tempat lain, beberapa orang sedang sibuk memasang perlengkapan di tubuh dan bersiap untuk mencoba waterspot yang ada. Mulai dari banana boat, flying fish, wave runner, parasailing, scuba diving, seawalker dan yang lainya.

Di antara riuh pantai dan para turis itu, beberapa anak berlarian. Umurnya sekitar 7-10 tahun. Mereka berlari ke sana kemari. Bukan untuk bermain pasir atau menikmati laut, tetapi membawa keranjang. Tangan kiri memegang keranjang agar tidak jatuh saat angin laut menyambut. Tangan kanannya memegang manik-manik berupa kalung dan gelang.

Dengan wajah polos dan penuh keberanian mereka menawarkan manik-manik itu kepada wisatawan asing yang berkunjung. Namun, tak satu pun wisatawan membelinya. Anak-anak yang seharusnya hanya belajar dan bermain itu kini harus menjajakan lagi satu per satu barang mereka kepada turis yang berlibur di tanah kelahiran mereka, Bali.

Tanjung Benoa bisa menjadi contoh bagaimana acak adutnya tata kelola pariwisata Bali saat ini. Kapal-kapal pengangkut turis dari Tanjung Benoa berseliweran di antara turis-turis lain yang menikmati atraksi wisata air. Di lokasi yang sama terdapat pula tempat snorkeling dan menyelam.

Jumlah turis juga seolah tak terkendali. Berapapun diterima. Padahal, daya dukung alam, apalagi pantai pasti ada batasnya.

Tanjung Benoa, lokasi favorit wisata pantai di Bali, mungkin bisa menjadi petanda kian sesaknya Bali akibat pariwisata yang tidak berkelanjutan. Padahal, pariwisata adalah napas Pulau Bali. Jika napasnya sesak, maka aktivitas apapun akan menjadi terhambat.

related posts

Divine Diving Konsen Dalam Melakukan Peningkatan Pemahaman Terhadap Wisata Bahari Di Labuan Bajo

27/Feb/20
Oleh Luh Putu Sugiari & Wahyu Ardianta
Perkembangan pariwisata semakin pesat menjadi tantangan bagi semua pelaku yang terlibat di dalamnya, bukan hanya masyarakat yang menjadi actor atau...