Kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini sering mendengar kata “Perubahan Iklim” atau “Pemanasan Global”. Hal ini karena pelan-pelan dampaknya sudah bisa dirasakan dan disaksikan dengan mata kepala kita sendiri. Panasnya udara di siang hari, wabah penyakit yang merajalela, hingga meningkatnya suhu rata-rata atmosfer laut yang menyebabkan rusaknya ekosistem dilautan. Perubahan iklim sendiri disebabkan oleh beragam kegiatan manusia yang tidak ramah lingkungan dimana menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, gas bumi dan minyak bumi sebagai bahan utama. Namun, belum banyak orang yang sadar bahwa selain pemanasan global, aktivitas bahari juga memiliki peran dalam perusakan ekosistem lautan khususnya pesisir.


Laju aktivitas industri bahari nusantara kini kian meningkat. Kita dapat dengan mudah menjumpai travel agen, trip organizer, dan penyedia jasa liburan dimana-mana. Bisa melalui internet, brosur perjalanan, hingga pesan berantai dari telepon genggam. Menurut catatan Kementerian Pariwisata (tahun 2016), untuk destinasi wisata bahari, Indonesia memiliki 33 destinasi penyelaman dan lebih dari 400 operator. Dari banyaknya devisa negara yang dihasilkan oleh wisata bahari, sebanyak 60% pengunjung melakukan wisata pesisir, 25% berwisata bahari dengan cruise atau kapal motor, dan 15% wisata bawah laut seperti snorkeling dan diving.


Masalahnya, dari sekian banyak pelaku pariwisata tersebut, banyak yang tidak  mempertimbangkan dampak ekologis kelestarian aset bahari nusantara. Pelaku pariwisata disini adalah penyedia jasa dan juga pengunjung. Padahal, terdapat efek domino pada aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi yang terjadi bila kita tidak bijak saat berwisata. Perilaku yang merusak misalnya saat snorkeling/diving, terumbu karang patah dan rusak akibat terinjak, terpegang, bahkan dengan sengaja dipatahkan guna cinderamata untuk pengunjung. Bila tidak dihentikan, lama-kelamaan keindahan bawah laut yang diisi oleh terumbu karang akan hilang dan nilai dari lokasi wisata tersebut akan menurun drastis. Wisatawan domestik maupun mancanegara akan malas untuk berkunjung. Lokasi wisata menjadi sepi, masyarakat lokal kehilangan pekerjaannya. Artinya, kontribusi devisa untuk negara juga berkurang.  dampak kepunahan yang mengancam, dan tidak dapat dinikmati langsung oleh generasi yang akan datang.


Belum lagi dari pihak trip organizer itu sendiri yang membiarkan pengunjung memberikan makan untuk ikan-ikan dengan biskuit dan roti yang udah mereka sediakan. Padahal, dengan begitu ikan-ikan dapat kehilangan insting berburu dan akan kembali ke tempat yang sama. Dari sisi akomodasi, perilaku yang tidak bertanggung jawab datang dengan tidak mengindahkan penghematan energi dan emisi. Lampu hotel dibiarkan menyala pada siang hari. Suhu AC diatur dibawah 23 derajat celcius, udara yang berasal dari AC juga menambah efek pemanasan global. Ada pula jumlah sampah yang dibawa pengunjung meningkat setiap tahun apabila tidak dikelola dengan baik, misalnya dengan mengubahnya menjadi benda daur ulang atau kerajinan lainnya akan merubah tempat wisata tersebut menjadi gundukan pulau sampah.  Dan masih banyak lagi.


Lalu, bagaimana mengatasinya? Kita bisa mulai menerapkan pola perilaku pariwisata bahari yang bertanggung jawab terhadap lingkungan denga meminimalisir produksi sampah, bertanggung jawab sosial dengan hormati adat-istiadat yang berlaku serta bertanggung jawab terhadap bisnis masyarakat lokal. Program “Signing Blue” sebagai salah satu inisiasi untuk membantu menciptakan pariwisata bahari yang bertanggung jawab mengeluarkan beberapa panduan seri Best Environmental Equitable Practices (BEEP). Panduan tersebut dapat diunduh melalui http://www.signingblue.com. Di dalamnya terdapat informasi dan tips bagaimana menjadi wisatawan yang bertanggung jawab demi kelangsungan wisata bahari Indonesia. Jadi, mulai sekarang kita harus mulai merubah perilaku kita demi pariwisata Indonesia yang lebih baik.